Page 53 - Kewarganegaraan
P. 53

Pendapat lain menyatakan bahwa suatu kelompok masyarakat dapat terintegrasi apabila
                    ada  3 yakni (Sunyoto Usman ,1998)
                   a.  Masyarakat dapat  menemukan  dan menyepakati  nilai-nilai  fundamental  yang dapat
                      dijadikan rujukan bersama. Jika masyarakat memiliki nilai bersama yang disepakati
                      maka mereka dapat bersatu, namun jika sudah tidak lagi memiliki nilai bersama maka
                      mudah untuk berseteru
                   b.  Masyarakat terhimpun dalam unit sosial sekaligus, memiliki “croos cutting affiliation”
                      sehingga menghasilkan “croos cutting loyality”. Jika masyarakat yang berbeda-beda
                      latar belakangnya menjadi anggota organisasi yang sama, maka mereka dapat bersatu
                      dan menciptakan loyalitas pada organisasi tersebut, bukan lagi pada latar belakangnya.
                   c.  Masyarakat berada di atas meiliki sifat saling ketergantungan di antara unit-unit sosial
                      yang terhimpun di dalamnya  dalam memenuhi kebutuhan ekonomi. Apabila masyarakat
                      saling memiliki ketergantungan, saling membutuhkan, saling kerjasama dalam bidang
                      ekonomi, maka mereka akan bersatu. Namun jika ada yang menguasai suatu usaha atau
                      kepemilikan maka yang lain akan merasa dirugikan dan dapat menimbulkan perseteruan.


                    Pendapat  lain  juga  menyebutkan  bahwa  integrasi  bangsa  dapat  dilakukan  dengan  2
                    (dua)  strategi  kebijakan  yaitu  “policy  assimilasionis”  dan  “policy  bhinneka  tunggal
                    ika” (Nazaruddin Sjamsudin, 1996). Strategi  pertama dengan cara penghapusan sifat-
                    sifat kultural  utama  dari komunitas kecil  yang berbeda menjadi  semacam  kebudayaan
                    nasional. Asimilasi  adalah pembauran  dua kebudayaan  yang disertai  dengan hilangnya
                    ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaan baru. Apabila asimilasi ini
                    menjadi sebuah strategi bagi integrasi nasional, berarti bahwa negara mengintegrasikan
                    masyarakatnya dengan mengupayakan agar unsur-unsur budaya yang ada dalam negara itu
                    benar-benar melebur menjadi satu dan tidak lagi menampakkan identitas budaya kelompok
                    atau budaya local.


                 4.  Dinamika dan Tantangan Pembangunan Integrasi
                        Sejak kita bernegara tahun 1945, upaya membangun integrasi secara terus-menerus
                    dilakukan. Terdapat  banyak  perkembangan  dan  dinamika  dari  integrasi  yang  terjadi  di
                    Indonesia. Dinamika integrasi sejalan dengan tantangan zaman waktu itu. Dinamika itu
                    bisa kita contohkan peristiswa integrasi berdasar lima jenis integrasi sebagai berikut:
                   a.  Integrasi bangsa,
                      Tanggal 15 Agustus 2005 melalui MoU (Memorandum of Understanding) di Vantaa,
                      Helsinki,  Finlandia,  pemerintah  Indonesia berhasil  secara  damai  mengajak  Gerakan
                      Aceh Merdeka (GAM) untuk kembali bergabung dan setia memegang teguh kedaulatan
                      bersama  Negara  Kesatuan Republik  Indonesia  (NKRI). Proses ini  telah  berhasil
                      menyelesaikan kasus disintegrasi yang terjadi di Aceh sejak tahun 1975 sampai 2005.
                   b.  Integrasi wilayah,
                      Melalui  Deklarasi  Djuanda  tanggal  13  Desember  1957, pemerintah  Indonesia
                      mengumumkan  kedaulatan wilayah Indonesia yakni lebar laut teritorial  seluas 12
                      mil diukur dari garis yang menghubungkan titik-titik ujung yang terluar pada pulau-
                      pulau Negara Indonesia. Dengan deklarasi ini maka terjadi integrasi wilayah teritorial
                      Indonesia.  Wilayah  Indonesia  merupakan  satu  kesatuan  wilayah  dan  laut  tidak  lagi
                      merupakan pemisah pulau, tetapi menjadi penghubung pulau-pulau di Indonesia
                   c.  Integrasi nilai
                      Nilai apa yang bagi bangsa Indonesia merupakan  nilai  integratif?  Jawabnya adalah
                      Pancasila.  Pengalaman  mengembangkan  Pancasila sebagai nilai  integratif  terus-
                      menerus dilakukan, misalnya melalui kegiatan pendidikan Pancasila baik dengan mata
                      kuliah  di perguruan tinggi  dan mata  pelajaran  di sekolah. Melalui  kurikulum  1975,

              50                                                  Buku Ajar Pembelajaran Mata Kuliah Wajib Pada Kurikulum Pendidikan Tinggi
                                                                                          Pendidikan Kewarganegaraan
   48   49   50   51   52   53   54   55   56   57   58