Page 141 - Kewarganegaraan
P. 141

Surat Kabar: Bali Post
                           (15 Maret 1980 I/1-6; VII/ 1-2)

                           Sebuah Kenangan dari Bung Hatta
                           ….. Meutia mengatakan “ayahnya (Bung Hatta) memiliki toleransi yang tinggi
                           terhadap orang lain. Contoh kecil, meski tak merokok Bung Hatta menaruh asbak
                           di meja kerjanya untuk para tamu perokok.”
                                  Bung Hatta selalu melihat sesuatu dalam proporsi yang baik, kata Sri-Edi
                           Swasono, menantunya yang eks Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan UI
                           asal Delanggu Jawa Tengah (Ralat: Madiun Jawa Timur). “Bung Hatta merupakan
                           pribadi yang unik ….  Kukuh dalam mempertahankan pendapat tetapi menolerir
                           pendapat yang berbeda tanpa mengomentari aspek negatifnya”.
                                  Mertuanya itu juga seorang yang religius dan strict selalu berusaha salat pada
                           waktunya, puasa, memberi zakat, dan kurban.

                                  Dalam kondisi sehat, Bung Hatta bangun jam 04.20 pagi. Lalu sembahyang
                           subuh. Sesudah mandi dan mencukur janggut ia melakukan orhiba (Olah Raga
                           Hidup Baru). Makan pagi jam 06.00 mendengarkan warta berita RRI tanpa pernah
                           ketinggalan dan membaca koran. Jam 08.00 kedua Sekretarisnya, Wangsawidjaja
                           seorang Sumedang Jabar dan Hutabarat Batak Protestan datang.
                                  Jam 13.00 tetap ditepati sebagai waktu makan siang bersama. Ketika Meutia
                           dan Gemala bersuami, yang tinggal menemani hanya hanya Halida yang sebentar
                           lagi pun akan bersuami dengan orang Sunda. “Karena saya tahu ayah menunggu
                           saya jarang sekali makan di luar”, tutur Halida. Gemala melukiskan meja makan
                           merupakan forum demokrasi tempat semua anggota keluarga menceritakan segala
                           sesuatu yang dialami juga uneg-uneg. …..
                           Dikutip dari  Bung Hatta Kita dalam pandangan Masyarakat: Mengenang 40
                           Hari Wafatnya Bung Hatta. Jakarta: Yayasan Idayu (1980).


                            Setelah Anda membaca pemberitaan di atas. Lakukan analisis bagaimana Bung
                         Hatta  membangun budaya demokratis  dalam  keluarganya? Aspek-aspek apa  saja
                         yang harus diperhatikan  dalam membangun budaya demokrasi dalam keluarga?
                         Apakah keluarga Anda termasuk dalam kategori keluarga yang demokratis? Setelah
                         Anda melakukan  analisis, buatlah  esai  bertema  “membangun  budaya  demokrasi
                         dalam keluarga untuk masa depan Indonesia yang lebih baik”.


                      2) Budaya demokrasi di sekolah
                            Budaya demokrasi perlu dipraktikkan di lingkungan sekolah, mulai dari tingkat
                         SD, SMP, SMA sampai  tingkat  Perguruan  Tinggi. Guru dan  dosen hendaknya
                         memberikan  contoh teladan  dalam  membangun  kultur demokrasi, baik di kelas
                         maupun  di luar kelas.  Sikap dan perilaku  demokratis perlu diterapkan  oleh guru
                         dan dosen dalam kegiatan pembelajarannya. Begitu pula para siswa dan mahasiswa
                         hendaknya mempraktikkan budaya demokrasi dalam berbagai kegiatan di sekolah
                         dan  di  kampus, misalnya  dalam  berdiskusi,  dalam  kegiatan  organisasi  siswa dan
                         mahasiswa dan dalam pergaulan antarteman.


                      3) Budaya demokrasi di masyarakat/organisasi sosial keagamaan
                            Berdasarkan makna budaya demokrasi sebagai pelaksanaan nilai-nilai demokrasi
                         secara  kultural  dalam  kehidupan  warganegara  sehari-hari,  maka  setiap  warga

             138                                                  Buku Ajar Pembelajaran Mata Kuliah Wajib Pada Kurikulum Pendidikan Tinggi
                                                                                          Pendidikan Kewarganegaraan
   136   137   138   139   140   141   142   143   144   145   146